Haaaiiii semuanya,,,, aku punya cerita pendek niih.. :D
ini adalah cerpen ku pada waktu SMA... :)
Dibaca yaah... :D
Selamat membaca... :)
Musibah Pembawa Berkah
Oleh
: FITRIA
Masih
terlihat dari wajah Fairah yang masih menyimpan kesedihan yang begitu amat
dalam. Setiap hari dia selalu teringat dengan semua kenangan bersama Ibunya.
Dan diapun selalu menangis jika mengingat semua kenangan itu.
“
Ibu, mengapa Ibu begitu cepat meninggalkan Adik? “. Sambil menangis dalam
hatinya dia selalu mengatakan itu berulang kali.
Fairah
mungkin memang belum bisa menerima semua keadaan ini. Dia selalu merasa
bersalah karena tidak bisa membahagiakan Ibunya.
“
Ya Allah, mengapa Engkau tidak izinkan ku untuk membahagiakan Ibuku? Kenapa
Engkau begitu cepat mengambilnya, ya Allah? “. Sambil melihat foto yang
digenggamnya bersama Ibunya.
Dan
beberapa saat kemudian dia tiba-tiba tertidur. Saat tertidur, dia bermimpi
betemu dengan sesosok orang yang tak begitu jelas wajahnya dan ia pun berkata
pada Fairah.
“
Hai anak kecil janganlah kamu terus-menerus larut dalam kasedihan karena itu
akan membuat Ibumu sakit. Janganlah kamu merasa bahwa kamu adalah orang yang
paling malang, karena kamu tidak tahu bahwa itu akan membuat kamu jatuh dan
tidak akan bisa tuk bangun lagi. Sadarlah bahwa masih ada orang yang perduli
dan butuh kamu “.
Tiba-tiba
ditengah malam dia terbangun dan ketakutan karena mendengar sesosok suara yang begitu
menyeramkan itu. Dan dia pun merenungi kata-kata yang diucapkan laki-laki itu.
“
Ya Allah aku tidak boleh sperti ini, aku harus kuat dan aku tidak boleh
terus-menerus bersedih. Aku juga tidak ingin membuat Ibuku menjadi sakit atau
sedih di alam sana. Aku harus kuuaaaattt....... Demi Ibu aku berjanji akan selalu
membahagiakan orang yang aku sayang “. Dia berkata dan sambil memegang foto yang
digengam tangannya itu.
Tidak
lama kemudian adzan subuh pun tiba. Saatnya fairah bangun dan
bersiap-siap untuk sholat subuh. Dalam sholatnya pun dia tidak pernah luput
untuk selalu mendo’akan Ibunya maupun keluarganya.
“
Ya Allah, hanya padaMu kami memohon dan hanya padaMu-lah kami berserah. Ya
Allah ampunilah segala dosa-dosa kedua orang tuaku. Dan tempatkanlah Ibuku
ke dalam surga-Mu bersama orang yang mendapat rahmat-Mu. Dan berikanlah hamba
salalu keikhlasan dalam menghadapi hidup ini ya Allah “. Fairah berdo’a dengan penuh
harapan dan begitu yakin, sehingga ia meneteskan air mata.
Pagi
pun tiba, Fairah sudah harus bersiap-siap untuk pergi sekolah. Dan dia tidak
pernah lupa untuk selalu membersihkan rumahnya sebelum ia pergi sekolah. Fairah
memang anak yang rajin bahkan dia selalu mengerjakan semua pekerjaan rumahnya
jika kakaknya pergi.
Sesampai
di sekolah Fairah memang sangat bersemangat untuk belajar. Dia sadar bahwa dia
harus berusaha untuk membahagiakan keluarganya. Dan setiap kali ia disuruh oleh
guru untuk mengerjakan soal, dia selalu menjawabnya dengan semangat, walaupun
terkadang ada jawabannya yang salah. Dia memang bersemangat sekali untuk
belajar. Itu dilakukannya karena dia ingin mendapatkan beasiswa, supaya Ayahnya
tidak terbebani lagi dengan biaya sekolahnya.
Bel
istirahat pun berbunyi, semua teman-teman Fairah pun beristirahat dan sebagian pun ada yang pergi
kekantin. Sedangkan Fairah, ia bukan istirahat ataupun pergi kekantin tapi dia
malah pergi ke perpustakaan untuk belajar. Dia sangat berusaha sekali untuk
mendapatkan beasiswa itu, bahkan diapun tidak perduli dengan perutnya yang
begitu lapar.
Tidak
lama setelah itu, teman Fairah pun datang menghampirinya.
“
Hai Fairah, mau kekantin gak ? jangan belajar terus donk. Kasihan tahu cacing
yang ada diperut kamu itu, pasti kelaparan “. Kata teman Fairah yang terlihat
begitu risih dengannya.
“
Aku tidak lapar kok Fanah....” jawab Fairah.
“
Ya udah deh kalau gitu, aku kekantin dulu ya”. Jawab Fanah temannya.
“
Iya Fan”. Jawab Fairah.
Tidak
lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Semua murid masuk kekelas dan memulai
lagi pelajaran selanjutnya. Fairah yang terlihat semangat untuk belajar membuat
gurunya sangat heran dengannya, karena selama ini dia tidak pernah sesemangat
ini. Keheranan gurunya itu membuat bangga pada dirinya karena Fairah sudah
berubah dan menjadi anak yang rajin.
“
Fairah, Ibu berharap perubahan kamu ini tidak akan pernah pudar ya? “ guru
Fairah berkata dengan nada yang menasehati.
“
Iya bu, saya juga berharap perubahan saya ini membawa berkah dan keberuntungan
bagi saya maupun orang lain, amin “. Jawab Fairah dengan nada yang halus.
Bel
pulang pun berbunyi dan menandakan semua siswa untuk pulang.
Sesampai
dirumah, Fairah kembali lagi untuk beraktifitas seperti biasanya, yaitu
membereskan rumahnya.
“
Dek, kamu udah pulang ya? “ tanya kakak Fairah yang sedang mencuci baju.
“
Iya kak “. Jawab Fairah.
“
Dek, kalau kamu capek, biar kakak aja yang membereskan rumah “. Jawab kakak.
“
nggak apa-apa kok kak, biar adek aja yang membereskannya”. Jawab Fairah dengan
tersenyum.
“
Ya udah, kalau kamu udah membereskan semuanya, kamu istirahat ya? “. Tanya
kakak.
“
Ok deh kak “. Jawab Fairah sambil tersenyum dengan kakaknya.
Akhirnya
semua pekerjaannya pun selesai juga dan waktunya untuk istirahat. Setelah
Fairah istirahat, malamnya ia melanjutkan untuk belajar. Tidak lama setelah ia
belajar, tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka dan itu ternyata Ayahnya.
Kemudian dia menghampiri Ayahnya dan berkata.
“
Ayah kok baru pulang malam-malam begini?? “. Tanya Fairah yang terlihat begitu
khawatir kepada Ayahnya.
“
Ayah tadi ada kerjaan jadi Ayah pulangnya agak malam “. Jawab Ayahnya dengan
nada yang begitu lemas.
“
Ya udah, kalau gitu Ayah istirahat aja ya? “ jawab Fairah.
“
Iya anakku “. Jawab Ayahnya dengan senyuman.
Fairah
memang begitu sayang kepada Ayahnya sehingga dia sangat peduli sekali kepada
Ayahnya. Melihat Ayahnya yang sudah tua itu harus bekerja siang malam membuat
ia merasa sedih dan merasa bersalah karena belum bisa membahagiakan Ayahnya.
“
huuffttt.....kapan ya aku jadi orang kaya? “. Fairah berkhayal dengan berharap
menjadi orang kaya.
“
aduuhhh.....tidak tidak, aku tidak boleh berkhayal seperti itu. Itu kan cuman
khayalan saja, mana mungkin itu bisa terjadi jika tanpa usaha “. Dia berkata dalam hatinya
sambil menggelengkan kepalanya.
Pagi
pun tiba, seperti biasanya Fairah memulai untuk beraktifitas mengerjakan rumah
sebelum pergi kesekolah. Saat di sekolah tiba-tiba Fairah mendapatkan kabar
bahwa Ayahnya sakit. Setelah mendengar kabar itu, dia segera pergi kerumah
sakit untuk menemui Ayahnya. Sesampai disana ternyata Ayahnya telah berada
diruangan UGD ( Unit Gawat Darurat ). Dan itu membuat Fairah gelisah dan sangat
khawatir sekali pada Ayahnya. Tak lama kemudian seorang Dokter pun keluar dan
mengatakan padanya bahwa Ayahnya telah mengalami kelumpuhan dan mungkin itu
sangat sulit untuk disembuhkan atau bahkan tidak bisa untuk disembuhkan lagi.
Setelah
mendengar berita itu, Fairah pun sangat terkejut dan tidak bisa untuk berkata -
kata lagi. Wajahnya pun berubah dan matanya mulai berkaca – kaca.
“
Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku ? ”. Ia mengatakan itu
sambil menangis.
Kesedihan
Fairah pun semakin dalam setelah baru saja ditinggalkan Ibunya, dan sekarang ia
mendapatkan masalah yang cukup berat baginya.
Satu
tahun kemudian, Fairah ternyata telah lulus sekolah dan sekarang ia bekuliah
disebuah Universitas Negeri Gadjah Mada yang ada di Yogyakarta. Ia bisa
berkuliah karena ia telah mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Dan akhirnya
keinginan dia untuk berkuliah pun sudah tercapai.
“
Alhamdulillah ya Allah..... Akhirnya aku bisa berkuliah. Aku yakin dibalik
cobaan ini pasti ada hikmahnya, dan ternyata itu benar. Terima kasih ya Allah
“. Dia mengatakan itu disaat ia berdo’a.
Tapi
keinginan Fairah tidak hanya berhenti disitu saja, ia harus tetap
mempertahankan beasiswanya itu, supaya dia bisa berkuliah tanpa mengeluarkan
uang sepeserpun. Mungkin tujuan Fairah hanya satu yaitu bisa membahagiakan Ayah
dan kakaknya.
Waktu
pun terus berjalan, Fairah yang terlihat begitu semangat untuk berkuliah
membuat Ayahnya sangat bangga kepadanya. Walaupun Ayahnya harus merelakan untuk
tidak bisa melihat anaknya itu untuk waktu beberapa tahun. Tapi ia yakin bahwa
anaknya itu bisa meraih segala cita – citanya.
Lima
tahun kemudian, disebuah Universitas Negeri Gadjah Mada sedang mengadakan acara
wisuda untuk kelulusan bagi Mahasiswa dan Mahasiswi yang telah lulus. Dalam
acara itu terlihat Fairah menghadiri acara tersebut yang menandakan bahwa ia
telah lulus kuliah. Dalam acara tersebut, semua teman – teman Fairah begitu
senang karena keluaraga dari masing – masing temannya itu bisa mrnghadiri acara
tersebut. Sedangkan Fairah tidak satu pun ada keluarga yang menghadiri acara
wisudanya itu.
“
Hai Rah, kenapa kamu terlihat begitu sedih? Inikan acara kelulusan kita,
seharusnya kamu senang dong..... “ Tanya temannya Fairah yang sedang
memperhatikan Fairah yang diam berdiri.
“
Oohh.... Aku nggak apa – apa kok. Aku cuma sedih sedikit karena gak ada satu
pun keluarga yang mengunjungiku. Tapi gak apa – apa sih, aku maklumi soalnya
Ayah ku kan gak bisa pergi kemana – mana karena lumpuh. Tapi aku yakin kalau
Ayah ku pasti mendo’akan ku yang terbaik dari sana “. Jawab Fairah dengan penuh
senyuman.
“
Ya uda, kalau gitu kamu ikut berkumpul sama keluarga aku saja. Kamu kan sudah aku
anggap sebagai saudaraku “. Jawab temanya.
“
Makasih ya Vril, kamu uda sangat baik sama aku “. Jawab Fairah yang masih
terilihat begitu sedih di wajahnya.
“
Iya sama – sama Rah “. Jawab temannya dengan tersenyum.
Keesokan
harinya Fairah pulang kekampung halaman. Dia sangat rindu sekali dengan kampung
halamannya terutama dengan keluarganya. Sesampai dirumahnya, dia langsung
teriak dan segera memanggil Kakaknya.
“
Kakak, adek udah pulang......... “. Teriak Fairah yang begitu bahagia.
“
Ya ampun, kamu uda pulang ya dek ? “. Tanya kakaknya yang cukup kaget dengan
kedatangannya.
“
Iya kak, aku udah lulus “. Jawab Fairah.
“
Alhamdulillah.... Selamat ya dek “. Jawab kakaknya dengan tersenyum.
“
Iya kak. Oya mana Ayah kak ? “. Tanya Fairah yang begitu tidak sabar untuk
segera memberitahukan kabar ini kepada Ayahnya.
“
Mmmhh.... ada kok Ayah didalam “. Jawab kakaknya.
“
Ayah....”. sambil berjalan menuju kekamar Ayahnya.
“
Ayah, Adek udah pulang dan sekarang Adek udah lulus. Adek kangen sekali sama
Ayah. Sekarang waktunya Adek untuk ngembahagiakan Ayah dan Kakak. Dan Adek akan
berusaha untuk mencari pekerjaan, supaya Ayah dan Kakak bisa hidup enak “.
Fairah berkata dengan yakin kepada Ayahnya.
“
Nak, kamu itu tidak perlu membahagiakan Ayah. Yang terpenting itu adalah kamu,
bagaimana caranya kamu itu bisa bahagia “. Jawab Ayahnya yang begitu pelan.
“
Nggak Ayah, Ayah itu harus bahagia. Itu janji adek selama ini “. Jawab Fairah
dengan nada yang sedikit marah.
“
Ya sudah kalau kamu ingin bahagiakan Ayah gak apa – apa. Tapi yang terpenting kamu
juga harus bahagia “. Jawab Ayahnya.
Beberapa
hari kemudian, Fiarah berjalan kesana kemari untuk mencari pekerjaan. Dan
ternyata pencariannya itu tidak sia – sia. Dia telah mendapatkan pekerjaan yang
cukup baik yaitu bekerja di sebuah perusahaan. Pekerjaannya itu tidak terlalu
sulit baginya. Tapi dia tetap bersyukur karena telah mendapatkan pekerjaan.
“
Alhamdulillah..... Akhirnya aku dapat kerjaan juga “. Dalam hatinya ia berkata
sambil mengelus dadanya dengan rasa syukur.
Keinginan
Fairah untuk membahagiakan Ayah dan Kakaknya akhirnya hampir tercapai, karena
sekarang ia sudah mendapatkan pekerjaan. Dia bahkan berniat untuk megumpulkan
uangnya itu dan menggunakan sebagian uangnya untuk kepentingan Ayah dan
Kakaknya. Terutama untuk kepentingan Ayahnya.
Dalam
hati Fairah, dia selalu berkeinginan untuk bisa menyembuhkan Ayahnya.
“
Seandainya saja penyakit Ayah bisa disembuhkan, aku pasti akan mempergunakan
semua uangku ini untuk berobat menyembuhkan Ayah “.
Walaupun
Ayahnya tidak bisa sembuh total, tapi dia tetap yakin dan akan merawat Ayahnya
sebaik mungkin. Karena baginya hanya Ayah dan Kakaknya lah keluarga
satu-satunya yang dia punya.
Waktu
terus berlalu, Fairah yang tidak terasa sudah bekerja selama lima tahun
ternyata telah memiliki pangkat kerja yang lebih tinggi. Ia diangkat sebagai
Direktur di perusahaannya dan itu merupakan hal yang patut untuk disyukuri.
“
Alhamdulillah.... pangkatku naik dan akhinya aku bisa membahagiakan keluaragaku
“. Dalam hatinya ia berkata sambil tersenyum.
Akhirnya
semua keinginan Fairah untuk membahagiakan Ayahnya telah tercapai. Ia berhasil
membuat Ayahnya tersenyum dan penuh bangga terhadapnya. Bukan hanya dalam
pekerjaan, tapi diluar itu juga. Ayahnya sangat bangga padanya karena sekarang
ia telah menjadi orang yang sukses. Bagi Ayahnya keberhasilan Anaknya itu hal yang
paling utama dari pada dirinya. Walaupun dengan keadaan seperti itu, Ayahnya
sangat bersyukur karena masih bisa diberikan kesempatan untuk bisa melihat
anaknya bahagia.
“
Ya Allah..... Terima kasih, akhirnya aku bisa diberi kesempatan untuk
membahagiakan Ayah dan Kakakku. Walaupun aku tidak sempat membahagiakan Ibuku,
tapi aku yakin bahwa Ibuku pasti tersenyum disana karena aku telah bisa
membahagiakan Ayah dan Kakakku “. Ia berkata dalam hati sambil menatap Ayahnya
yang sedang duduk dikursi roda.
“
Nak, terima kaaih ya kamu selama ini telah berjuang keras untuk membahagiakan
Ayah dan Kakak. Ayah sangat bersyukur sekali punya anak seperti kamu yang baik
dan berbakti sama keluarga “. Ayahnya berkata dengan pelan kepada Fairah yang
dengan penuh kaharuan.
“
Ayah... jangan menangis, ini memang kewajiban Fairah untuk membahagiakan Ayah.
Fairah juga bahkan tidak merasa terbebani dengan semua ini. Bahkan Fairah
merasa senang Ayah “. Jawab Fairah dengan senyuman dan kemudian mencium tangan
Ayahnya.
“
Iya, terima kasih ya nak “. Jawab Ayahnya sambil mengelus kepala Fairah.
“
Ayah tidak perlu berterima kasih, Fairah melakukan semua ini dengan ikhlas.
Fairah sangat sayang sekali sama Ayah “. Sambil memeluk Ayahnya.
“
Iya nak, Ayah juga sangat sayang sama kamu “. Jawab Ayahnya.
Tidak
hanya itu, Kakak Fairah yang usianya telah menginjak 23 tahun akhirnya telah
menemukan sesosok pria yang baik dan mencintainya. Dan tidak lama setelah itu, kemudian
mereka akan menikah. Kebahagiaan Fairah pun lengkap sudah. Dia merasa lega
akhirnya bisa membuat keluarganya tersenyum dengan penuh kabahagiaan. Dan
ternyata bagi Fairah musibah yang selama ini menimpa dia ternyata membawa
kebahagiaan yang begitu amat besar dalam hidupnya. Dia sangat bersyukur bahwa dibalik
musibah selama ini, tersimpan hikmah yang begitu besar dalam kaluarganya. Dia
sadar bahwa setiap musibah yang menimpanya itu, tidak harus jatuh terus –
menerus tapi harus bangkit dan berusaha untuk memulai semuanya. Supaya pada
suatu saat nanti ia bisa menemukan hikmah dari musibah itu.
Sekian dari cerpen saya...:)
Terima kasih sudah membaca.... :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komentar yang baik, bagus dan menarik yaaahh.. :D