Halaman

Linkin Park_ What I've Done

Kamis, 26 Desember 2013

Cerpen Ku :D


 Haaaiiii semuanya,,,, aku punya cerita pendek niih..  :D
ini adalah cerpen ku pada waktu SMA... :)
Dibaca yaah... :D
Selamat membaca... :)




Musibah Pembawa Berkah

Oleh : FITRIA

Masih terlihat dari wajah Fairah yang masih menyimpan kesedihan yang begitu amat dalam. Setiap hari dia selalu teringat dengan semua kenangan bersama Ibunya. Dan diapun selalu menangis jika mengingat semua kenangan itu.
“ Ibu, mengapa Ibu begitu cepat meninggalkan Adik? “. Sambil menangis dalam hatinya dia selalu mengatakan itu berulang kali.
Fairah mungkin memang belum bisa menerima semua keadaan ini. Dia selalu merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan Ibunya.
“ Ya Allah, mengapa Engkau tidak izinkan ku untuk membahagiakan Ibuku? Kenapa Engkau begitu cepat mengambilnya, ya Allah? “. Sambil melihat foto yang digenggamnya bersama Ibunya.
Dan beberapa saat kemudian dia tiba-tiba tertidur. Saat tertidur, dia bermimpi betemu dengan sesosok orang yang tak begitu jelas wajahnya dan ia pun berkata pada Fairah.
“ Hai anak kecil janganlah kamu terus-menerus larut dalam kasedihan karena itu akan membuat Ibumu sakit. Janganlah kamu merasa bahwa kamu adalah orang yang paling malang, karena kamu tidak tahu bahwa itu akan membuat kamu jatuh dan tidak akan bisa tuk bangun lagi. Sadarlah bahwa masih ada orang yang perduli dan butuh kamu “.
Tiba-tiba ditengah malam dia terbangun dan ketakutan karena mendengar sesosok suara yang begitu menyeramkan itu. Dan dia pun merenungi kata-kata yang diucapkan laki-laki itu.
“ Ya Allah aku tidak boleh sperti ini, aku harus kuat dan aku tidak boleh terus-menerus bersedih. Aku juga tidak ingin membuat Ibuku menjadi sakit atau sedih di alam sana. Aku harus kuuaaaattt....... Demi Ibu aku berjanji akan selalu membahagiakan orang yang aku sayang “. Dia berkata dan sambil memegang foto yang digengam tangannya itu.
Tidak lama kemudian adzan subuh pun tiba. Saatnya fairah bangun dan bersiap-siap untuk sholat subuh. Dalam sholatnya pun dia tidak pernah luput untuk selalu mendo’akan Ibunya maupun keluarganya.
“ Ya Allah, hanya padaMu kami memohon dan hanya padaMu-lah kami berserah. Ya Allah ampunilah segala dosa-dosa kedua orang tuaku. Dan tempatkanlah Ibuku ke dalam surga-Mu bersama orang yang mendapat rahmat-Mu. Dan berikanlah hamba salalu keikhlasan dalam menghadapi hidup ini ya Allah “. Fairah berdo’a dengan penuh harapan dan begitu yakin, sehingga ia meneteskan air mata.
Pagi pun tiba, Fairah sudah harus bersiap-siap untuk pergi sekolah. Dan dia tidak pernah lupa untuk selalu membersihkan rumahnya sebelum ia pergi sekolah. Fairah memang anak yang rajin bahkan dia selalu mengerjakan semua pekerjaan rumahnya jika kakaknya pergi.
Sesampai di sekolah Fairah memang sangat bersemangat untuk belajar. Dia sadar bahwa dia harus berusaha untuk membahagiakan keluarganya. Dan setiap kali ia disuruh oleh guru untuk mengerjakan soal, dia selalu menjawabnya dengan semangat, walaupun terkadang ada jawabannya yang salah. Dia memang bersemangat sekali untuk belajar. Itu dilakukannya karena dia ingin mendapatkan beasiswa, supaya Ayahnya tidak terbebani lagi dengan biaya sekolahnya.
Bel istirahat pun berbunyi, semua teman-teman Fairah pun  beristirahat dan sebagian pun ada yang pergi kekantin. Sedangkan Fairah, ia bukan istirahat ataupun pergi kekantin tapi dia malah pergi ke perpustakaan untuk belajar. Dia sangat berusaha sekali untuk mendapatkan beasiswa itu, bahkan diapun tidak perduli dengan perutnya yang begitu lapar.
Tidak lama setelah itu, teman Fairah pun datang menghampirinya.
“ Hai Fairah, mau kekantin gak ? jangan belajar terus donk. Kasihan tahu cacing yang ada diperut kamu itu, pasti kelaparan “. Kata teman Fairah yang terlihat begitu risih dengannya.
“ Aku tidak lapar kok Fanah....” jawab Fairah.
“ Ya udah deh kalau gitu, aku kekantin dulu ya”. Jawab Fanah temannya.
“ Iya Fan”. Jawab Fairah.
Tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Semua murid masuk kekelas dan memulai lagi pelajaran selanjutnya. Fairah yang terlihat semangat untuk belajar membuat gurunya sangat heran dengannya, karena selama ini dia tidak pernah sesemangat ini. Keheranan gurunya itu membuat bangga pada dirinya karena Fairah sudah berubah dan menjadi anak yang rajin.
“ Fairah, Ibu berharap perubahan kamu ini tidak akan pernah pudar ya? “ guru Fairah berkata dengan nada yang menasehati.
“ Iya bu, saya juga berharap perubahan saya ini membawa berkah dan keberuntungan bagi saya maupun orang lain, amin “. Jawab Fairah dengan nada yang halus.
Bel pulang pun berbunyi dan menandakan semua siswa untuk pulang.
Sesampai dirumah, Fairah kembali lagi untuk beraktifitas seperti biasanya, yaitu membereskan rumahnya.
“ Dek, kamu udah pulang ya? “ tanya kakak Fairah yang sedang mencuci baju.
“ Iya kak “. Jawab Fairah.
“ Dek, kalau kamu capek, biar kakak aja yang membereskan rumah “. Jawab kakak.
“ nggak apa-apa kok kak, biar adek aja yang membereskannya”. Jawab Fairah dengan tersenyum.
“ Ya udah, kalau kamu udah membereskan semuanya, kamu istirahat ya? “. Tanya kakak.
“ Ok deh kak “. Jawab Fairah sambil tersenyum dengan kakaknya.
Akhirnya semua pekerjaannya pun selesai juga dan waktunya untuk istirahat. Setelah Fairah istirahat, malamnya ia melanjutkan untuk belajar. Tidak lama setelah ia belajar, tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka dan itu ternyata Ayahnya. Kemudian dia menghampiri Ayahnya dan berkata.
“ Ayah kok baru pulang malam-malam begini?? “. Tanya Fairah yang terlihat begitu khawatir kepada Ayahnya.
“ Ayah tadi ada kerjaan jadi Ayah pulangnya agak malam “. Jawab Ayahnya dengan nada yang begitu lemas.
“ Ya udah, kalau gitu Ayah istirahat aja ya? “ jawab Fairah.
“ Iya anakku “. Jawab Ayahnya dengan senyuman.
Fairah memang begitu sayang kepada Ayahnya sehingga dia sangat peduli sekali kepada Ayahnya. Melihat Ayahnya yang sudah tua itu harus bekerja siang malam membuat ia merasa sedih dan merasa bersalah karena belum bisa membahagiakan Ayahnya.
“ huuffttt.....kapan ya aku jadi orang kaya? “. Fairah berkhayal dengan berharap menjadi orang kaya.
“ aduuhhh.....tidak tidak, aku tidak boleh berkhayal seperti itu. Itu kan cuman khayalan saja, mana mungkin itu bisa terjadi jika tanpa usaha “. Dia berkata dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya.
Pagi pun tiba, seperti biasanya Fairah memulai untuk beraktifitas mengerjakan rumah sebelum pergi kesekolah. Saat di sekolah tiba-tiba Fairah mendapatkan kabar bahwa Ayahnya sakit. Setelah mendengar kabar itu, dia segera pergi kerumah sakit untuk menemui Ayahnya. Sesampai disana ternyata Ayahnya telah berada diruangan UGD ( Unit Gawat Darurat ). Dan itu membuat Fairah gelisah dan sangat khawatir sekali pada Ayahnya. Tak lama kemudian seorang Dokter pun keluar dan mengatakan padanya bahwa Ayahnya telah mengalami kelumpuhan dan mungkin itu sangat sulit untuk disembuhkan atau bahkan tidak bisa untuk disembuhkan lagi.
Setelah mendengar berita itu, Fairah pun sangat terkejut dan tidak bisa untuk berkata - kata lagi. Wajahnya pun berubah dan matanya mulai berkaca – kaca.
“ Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan padaku ? ”. Ia mengatakan itu sambil menangis.
Kesedihan Fairah pun semakin dalam setelah baru saja ditinggalkan Ibunya, dan sekarang ia mendapatkan masalah yang cukup berat baginya.
Satu tahun kemudian, Fairah ternyata telah lulus sekolah dan sekarang ia bekuliah disebuah Universitas Negeri Gadjah Mada yang ada di Yogyakarta. Ia bisa berkuliah karena ia telah mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. Dan akhirnya keinginan dia untuk berkuliah pun sudah tercapai.
“ Alhamdulillah ya Allah..... Akhirnya aku bisa berkuliah. Aku yakin dibalik cobaan ini pasti ada hikmahnya, dan ternyata itu benar. Terima kasih ya Allah “. Dia mengatakan itu disaat ia berdo’a.
Tapi keinginan Fairah tidak hanya berhenti disitu saja, ia harus tetap mempertahankan beasiswanya itu, supaya dia bisa berkuliah tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Mungkin tujuan Fairah hanya satu yaitu bisa membahagiakan Ayah dan kakaknya.
Waktu pun terus berjalan, Fairah yang terlihat begitu semangat untuk berkuliah membuat Ayahnya sangat bangga kepadanya. Walaupun Ayahnya harus merelakan untuk tidak bisa melihat anaknya itu untuk waktu beberapa tahun. Tapi ia yakin bahwa anaknya itu bisa meraih segala cita – citanya.
Lima tahun kemudian, disebuah Universitas Negeri Gadjah Mada sedang mengadakan acara wisuda untuk kelulusan bagi Mahasiswa dan Mahasiswi yang telah lulus. Dalam acara itu terlihat Fairah menghadiri acara tersebut yang menandakan bahwa ia telah lulus kuliah. Dalam acara tersebut, semua teman – teman Fairah begitu senang karena keluaraga dari masing – masing temannya itu bisa mrnghadiri acara tersebut. Sedangkan Fairah tidak satu pun ada keluarga yang menghadiri acara wisudanya itu.
“ Hai Rah, kenapa kamu terlihat begitu sedih? Inikan acara kelulusan kita, seharusnya kamu senang dong..... “ Tanya temannya Fairah yang sedang memperhatikan Fairah yang diam berdiri.
“ Oohh.... Aku nggak apa – apa kok. Aku cuma sedih sedikit karena gak ada satu pun keluarga yang mengunjungiku. Tapi gak apa – apa sih, aku maklumi soalnya Ayah ku kan gak bisa pergi kemana – mana karena lumpuh. Tapi aku yakin kalau Ayah ku pasti mendo’akan ku yang terbaik dari sana “. Jawab Fairah dengan penuh senyuman.
“ Ya uda, kalau gitu kamu ikut berkumpul sama keluarga aku saja. Kamu kan sudah aku anggap sebagai saudaraku “. Jawab temanya.
“ Makasih ya Vril, kamu uda sangat baik sama aku “. Jawab Fairah yang masih terilihat begitu sedih di wajahnya.
“ Iya sama – sama Rah “. Jawab temannya dengan tersenyum.
Keesokan harinya Fairah pulang kekampung halaman. Dia sangat rindu sekali dengan kampung halamannya terutama dengan keluarganya. Sesampai dirumahnya, dia langsung teriak dan segera memanggil Kakaknya.
“ Kakak, adek udah pulang......... “. Teriak Fairah yang begitu bahagia.
“ Ya ampun, kamu uda pulang ya dek ? “. Tanya kakaknya yang cukup kaget dengan kedatangannya.
“ Iya kak, aku udah lulus “. Jawab Fairah.
“ Alhamdulillah.... Selamat ya dek “. Jawab kakaknya dengan tersenyum.
“ Iya kak. Oya mana Ayah kak ? “. Tanya Fairah yang begitu tidak sabar untuk segera memberitahukan kabar ini kepada Ayahnya.
“ Mmmhh.... ada kok Ayah didalam “. Jawab kakaknya.
“ Ayah....”. sambil berjalan menuju kekamar Ayahnya.
“ Ayah, Adek udah pulang dan sekarang Adek udah lulus. Adek kangen sekali sama Ayah. Sekarang waktunya Adek untuk ngembahagiakan Ayah dan Kakak. Dan Adek akan berusaha untuk mencari pekerjaan, supaya Ayah dan Kakak bisa hidup enak “. Fairah berkata dengan yakin kepada Ayahnya.
“ Nak, kamu itu tidak perlu membahagiakan Ayah. Yang terpenting itu adalah kamu, bagaimana caranya kamu itu bisa bahagia “. Jawab Ayahnya yang begitu pelan.
“ Nggak Ayah, Ayah itu harus bahagia. Itu janji adek selama ini “. Jawab Fairah dengan nada yang sedikit marah.
“ Ya sudah kalau kamu ingin bahagiakan Ayah gak apa – apa. Tapi yang terpenting kamu juga harus bahagia “. Jawab Ayahnya.
Beberapa hari kemudian, Fiarah berjalan kesana kemari untuk mencari pekerjaan. Dan ternyata pencariannya itu tidak sia – sia. Dia telah mendapatkan pekerjaan yang cukup baik yaitu bekerja di sebuah perusahaan. Pekerjaannya itu tidak terlalu sulit baginya. Tapi dia tetap bersyukur karena telah mendapatkan pekerjaan.
“ Alhamdulillah..... Akhirnya aku dapat kerjaan juga “. Dalam hatinya ia berkata sambil mengelus dadanya dengan rasa syukur.
Keinginan Fairah untuk membahagiakan Ayah dan Kakaknya akhirnya hampir tercapai, karena sekarang ia sudah mendapatkan pekerjaan. Dia bahkan berniat untuk megumpulkan uangnya itu dan menggunakan sebagian uangnya untuk kepentingan Ayah dan Kakaknya. Terutama untuk kepentingan Ayahnya.
Dalam hati Fairah, dia selalu berkeinginan untuk bisa menyembuhkan Ayahnya.
“ Seandainya saja penyakit Ayah bisa disembuhkan, aku pasti akan mempergunakan semua uangku ini untuk berobat menyembuhkan Ayah “.
Walaupun Ayahnya tidak bisa sembuh total, tapi dia tetap yakin dan akan merawat Ayahnya sebaik mungkin. Karena baginya hanya Ayah dan Kakaknya lah keluarga satu-satunya yang dia punya.
Waktu terus berlalu, Fairah yang tidak terasa sudah bekerja selama lima tahun ternyata telah memiliki pangkat kerja yang lebih tinggi. Ia diangkat sebagai Direktur di perusahaannya dan itu merupakan hal yang patut untuk disyukuri.
“ Alhamdulillah.... pangkatku naik dan akhinya aku bisa membahagiakan keluaragaku “. Dalam hatinya ia berkata sambil tersenyum.
Akhirnya semua keinginan Fairah untuk membahagiakan Ayahnya telah tercapai. Ia berhasil membuat Ayahnya tersenyum dan penuh bangga terhadapnya. Bukan hanya dalam pekerjaan, tapi diluar itu juga. Ayahnya sangat bangga padanya karena sekarang ia telah menjadi orang yang sukses. Bagi Ayahnya keberhasilan Anaknya itu hal yang paling utama dari pada dirinya. Walaupun dengan keadaan seperti itu, Ayahnya sangat bersyukur karena masih bisa diberikan kesempatan untuk bisa melihat anaknya bahagia.
“ Ya Allah..... Terima kasih, akhirnya aku bisa diberi kesempatan untuk membahagiakan Ayah dan Kakakku. Walaupun aku tidak sempat membahagiakan Ibuku, tapi aku yakin bahwa Ibuku pasti tersenyum disana karena aku telah bisa membahagiakan Ayah dan Kakakku “. Ia berkata dalam hati sambil menatap Ayahnya yang sedang duduk dikursi roda.
“ Nak, terima kaaih ya kamu selama ini telah berjuang keras untuk membahagiakan Ayah dan Kakak. Ayah sangat bersyukur sekali punya anak seperti kamu yang baik dan berbakti sama keluarga “. Ayahnya berkata dengan pelan kepada Fairah yang dengan penuh kaharuan.
“ Ayah... jangan menangis, ini memang kewajiban Fairah untuk membahagiakan Ayah. Fairah juga bahkan tidak merasa terbebani dengan semua ini. Bahkan Fairah merasa senang Ayah “. Jawab Fairah dengan senyuman dan kemudian mencium tangan Ayahnya.
“ Iya, terima kasih ya nak “. Jawab Ayahnya sambil mengelus kepala Fairah.
“ Ayah tidak perlu berterima kasih, Fairah melakukan semua ini dengan ikhlas. Fairah sangat sayang sekali sama Ayah “. Sambil memeluk Ayahnya.
“ Iya nak, Ayah juga sangat sayang sama kamu “. Jawab Ayahnya.
Tidak hanya itu, Kakak Fairah yang usianya telah menginjak 23 tahun akhirnya telah menemukan sesosok pria yang baik dan mencintainya. Dan tidak lama setelah itu, kemudian mereka akan menikah. Kebahagiaan Fairah pun lengkap sudah. Dia merasa lega akhirnya bisa membuat keluarganya tersenyum dengan penuh kabahagiaan. Dan ternyata bagi Fairah musibah yang selama ini menimpa dia ternyata membawa kebahagiaan yang begitu amat besar dalam hidupnya. Dia sangat bersyukur bahwa dibalik musibah selama ini, tersimpan hikmah yang begitu besar dalam kaluarganya. Dia sadar bahwa setiap musibah yang menimpanya itu, tidak harus jatuh terus – menerus tapi harus bangkit dan berusaha untuk memulai semuanya. Supaya pada suatu saat nanti ia bisa menemukan hikmah dari musibah itu.


Sekian dari cerpen saya...:)
Terima kasih sudah membaca.... :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar yang baik, bagus dan menarik yaaahh.. :D